Senin, 03 September 2007

APAKAH AKU YANG MEMBACA, LEBIH BAIK ATAU LEBIH BURUK?

Shalom,
Dear Tders, Matius 25:13 berkata : "Karena itu, berjaga-jagalah, sebab kamu tidak tahu akan hari maupun akan saatnya".

Bro & Sis sekalian di kesempatan ini saya mau menyampaikan kesaksian saya tentang apa yang saya alami kemarin, Minggu, 26 Agustus 2007. Sungguh saya mau berkata, kalau ada orang yang paling berdosa pada hari itu, sayalah orangnya, tapi kalaupun ada orang yang paling berbahagia, sayalah juga orangnya.

Ceritanya begini:
Hari Minggu 19 Agustus 2007 ( satu minggu yang lalu ), saat Ibadah Raya di gereja kami, sembari menunggu jemaat datang, saya melihat seorang bapak tua datang ke gereja. Saya tahu dia adalah jemaat baru di gereja kami ( karena di gereja kami, setiap jemaat baru selalu kami minta memperkenalkan diri, dan kami mendoakan mereka apapun reason mereka untuk datang, tapi kami selalu menggaungkan bahwa "GEREJA" adalah jawaban ), dan ini adalah kehadirannya yang kedua kalinya. Saya sapa dia, saya salam dan sebut namanya. Eh dia kaget....."Lho bapak ingat nama saya ya?" tanyanya. Mungkin karena bapak ini sudah tua, sehingga dia lupa minggu sebelumnya dia sudah memperkenalkan namanya ke saya. Saya persilahkan dia untuk mengambil tempat duduk. Ibadah dimulai, berhubung hari itu Gembala kami sedang pelayanan keluar kota , maka sayalah yang memimpin pembukaan Ibadah kami. Saat ruang kesaksian dibuka, bapak tua ini ternyata juga memberikan kesaksiannya, di akhir kesaksiannya ia meminta agar keluarganya bisa didoakan. Saat ibadah selesai, saya panggil pak tua itu dengan maksud mau berdoa buat dia. Ternyata bro & sis yang dia maksud waktu memberi kesaksian, adalah agar keluarganya dikunjungi karena istrinya sedang sakit, sudah 3 tahun terkena stroke. Saya merespon permintaannya, dan berjanji sore nanti saya akan kerumahnya. Singkat cerita sorenya saya berkunjung kerumah pak tua ini, dan saya berjumpa dengan istrinya mungkin berumur kurang lebih 60 tahun. Keadaan mereka ternyata sungguh memprihatinkan. Sang istri menceritakan penyakitnya ke saya, tapi yang membuat saya terharu bukan penyakitnya itu yang ia keluhkan, yang ia keluhkan adalah sudah 1 ( satu ) tahun ia tak pernah bergereja !! Karena ia tak bisa berjalan, kaki kirinya sangat sulit untuk melangkah, ia hanya sanggup berjalan tidak lebih 3 - 4 meter, selebihnya yang ia bisa lakukan duduk atau berbaring. Iya berkata..."Pak jiwa saya ini sudah kering rasanya...." .

Saya coba hibur dia sambil bercanda, waduh sayang ya bu mobil saya rodanya masih dua ( maksudnya saya baru punya sepeda motor ), kalau rodanya empat, saya pasti akan jemput ibu untuk pergi bergereja. Pak tua nyeletuk, kalaupun dijemput siapa yang bopong ibu ? ( tempat ibadah kami berada di lantai 2 ).

Saya katakan kepada mereka pasti ada banyak yang mau membopong si ibu ke lantai 2. Kamipun berdoa, dan saya membagikan Firman kepada si Ibu dari Mazmur 23, dan saya pastikan kepada si Ibu, sesuai Firman yang sudah ia dengar, minggu depan pasti ( garis bawahi saya berkata : PASTI ) ia akan bergereja. Kemudian saya pamit, dan melanjutkan pelayanan saya di Ibadah Raya sore.

Waktu berjalan, Senin.....Selasa. ......dan saya menjalaninya seperti biasa, bekerja..... melayani dst-dst dan....... tibalah hari yang ditunggu-tunggu, yaitu Minggu, yang kita percaya merupakan hari Sabat, hari kenikmatan, hari kudusnya Tuhan seperti Firman katakan di Yesaya 58:13-14.

Jam 07:20 saya sudah tiba di gereja, dan melakukan apa yang menjadi bagian pelayanan dan tanggung jawab saya. Jam 07:50 saya turun ke ke lantai I, hendak memeriksa para usher yang bertugas, begitu sampai di lantai I, si Pak Tua ternyata baru sampai kegereja. Saya seperti mendengar dentuman palu godam di hati saya ketika si Pak Tua berkata, "Lho pak, kami sudah tunggu-tunggu jemputannya. .....Ibu malah sudah siap-siap ke gereja, cuma karena waktunya sudah mepet, Ibu bilang ....ya sudah biar bapak aja yang ke gereja."

Ternyata saya LUPA untuk meng-arrange jemputan untuk Pak Tua ini dan istrinya. Sedikitpun tak terbersit di pikiran saya tentang hal itu sampai saat si Pak Tua bertanya ke saya. Sungguh Bro & Sis, saya seperti anak kecil ke Pak Tua itu, saya tidak hanya minta maaf ke dia, tapi sayapun minta-minta ampun ke dia, saya panik, apalagi Ibadah akan dimulai jam 08:00. Saya bilang ( sebenarnya setengah berteriak ) Aduh pak, ampuni saya pak, saya salah....saya lupa!!. Saya bilang ke dia tunggu sebentar pak, secepat kilat saya kembali berlari naik ke lantai 2. Saya minta tolong salah seorang diaken untuk menjemput si Ibu, dan si Pak Tua itu ikut di mobil untuk menjemput istrinya.Jarak rumahnya dengan gereja kurang lebih 10 menit perjalanan mobil.

Ibadah berjalan, tapi saya tak bisa menikmatinya, saya gelisah, sebentar-bentar saya saya menoleh ke pintu masuk ruang ibadah, Pak Tua & istri belum juga muncul. Praise the Lord, jam 08:10 mereka tiba, si Ibu kelihatan sedang dibopong-bopong orang ibu-ibu diakones, tertatih tatih menaiki tangga. Saya sambut mereka, dan mempersilahkan mereka duduk di deret kursi paling depan, di sebelah saya.

Pemberitaan Firman/Kotbah. Gembala kami menyampaikan kotbahnya. Saat kotbah berjalan kira-kira 30 menit, tiba-tiba lawatan Tuhan turun, hadirat Tuhan begitu pekaaaaatttnya. ..!!!. Manifestasi- manifestasi mulai terjadi, saya tahu, kotbah belum selesai tapi gembala sudah mengundang semua jemaat bangkit berdiri, mari kita angkat pujian katanya, mari kita sembah Tuhan!

Dahsyat....! !! begitu penyembahan diangkat, ada begitu banyak yang mengalami lawatan Tuhan, mereka mulai bermanifestasi. Tiba-tiba seorang Ibu tampil ke depan dengan gerakan tarian, ia mendekati si Ibu yang sakit tadi, dan luar biasa......karena si Ibu yang sakit tadi tetap duduk, ibu yang menari itu, berlutut didepannya, dan mengangkat kaki kiri si Ibu , meluruskannya setinggi lutut, dan mulai mengurut kakinya ( ibu ini tidak tahu kalau kaki kiri si Ibu tua inilah yang sakit ) . Sementara mengurut tiba-tiba dia menoleh kebelakang memberi isyarat ke Gembala yang ada di mimbar untuk turun menghampiri Ibu yang sakit, Gembala turun dan menumpangkan tangan ke kaki yang sakit dan berdoa buat si Ibu. Wow...ajaib Tuhan, tiba-tiba Ibu tua ini bangkit berdiri dan berjalan, sendirian..! ! tanpa di papah atau di bantu, terus dan terus sementara penyembahan berjalan ia berjalan kesana kemari. Halleluyah.. ..!! Ibu ini mengalami mujizat...dia sembuh!!!.

Saat ibadah selesai, jemaat masih saja pada duduk di bangkunya, Gembala kami kembali ke mimbar, dan mengajak si Ibu ini untuk bersaksi, untuk ke mimbar ada anak tangga yang harus di tapaki, luar biasa, si Ibu tak perlu bantuan, karena dia sudah sembuh, dan memang saya sudah sembuh katanya di kesaksiannya.

Coba bayangkan Bro & Sis pengalaman saya ini. Kalau saja Ibu ini tak mengalami Kairosnya Tuhan akibat keteledoran saya, pastilah penyesalan yang akan saya rasakan, namun saya bersyukur pada akhirnya, karena pekerjaan Tuhan, bisa tergenapi, khususnya untuk pribadi si Ibu Tua tadi.

Dan Matius 25:13 tadi akan menjadi rhema yang hidup bagi pelayanan saya, agar saya tidak menjadi teledor dalam komitmen pelayanan saya.

Terpujilah Tuhan kita Yesus Kristus. Halleluyah.. ....

Gbu
Pdp. Iskandar Dachi
Batam Tders

Tidak ada komentar:

Posting Komentar