Rabu, 25 Juli 2007

CUKUPLAH KASIH KARUNIA-KU

2 Korintus 12:9
Tetapi jawab Tuhan kepadaku: "Cukuplah kasih karunia-Ku bagimu, sebab justru dalam kelemahanlah kuasa-Ku menjadi sempurna." Sebab itu terlebih suka aku bermegah atas kelemahanku, supaya kuasa Kristus turun menaungi aku.

Nana mulai bosan menjalani hidup! Sepertinya hanya ada satu jalan yang timbul dibenaknya, untuk keluar dari kesesakan ini, yaitu BUNUH DIRI!!

Tanpa mengenal waktu dan tempat, entah itu pagi, siang atau malam, pertengkaran antara ayah dan ibunya yang selalu dia lihat. Sepertinya orang tuanya tidak pernah bosan untuk saling menyakiti, masing-masing tidak mau kalah.

Dan akhir-akhir ini ayah mulai ringan tangan, Dan ibu pun tidak mau kalah, justru ikut membalas pukulan ayah dengan melempar benda-benda yang ada dirumah.

Nana mulai tak berdaya! Nana mulai kehilangan pegangan! Kemewahan yang orang tuanya berikan tak mampu mengobati luka hatinya.

Nana mulai frustasi, saat melihat Roni, adik satu-satunya terikat dengan 'narkoba' dan mulai sering tidak pulang kerumah, mencari diluar sana kasih sayang yang telah hilang di keluarga mereka.

Nana goyah! Nana terkulai! Ketika dia melihat sendiri, kekasih yang selama ini menjadi temannya berbagi SELINGKUH.

Kesesakan, kelemahan yang Nana rasakan membuat dia lupa pada satu Pribadi yang begitu mengasihiNya. Selama ini Nana aktif di setiap kegiatan gereja, tapi tekanan-tekanan yang dialaminya membuatnya tak mampu lagi merasakan bahwa kasih karunia dari Tuhan besar baginya.

Tak seorangpun mampu menghalangi keputusan Nana, dengan hati yang hancur dia meneguk pil penenang. Nana membantu Tuhan untuk mengakhiri hidupnya. Nana meninggal karena over dosis obat penenang.

Sobat,
Yesus katakan,"Cukuplah kasih Karunia-Ku bagimu", ini bukan sekedar janji Romeo kepada Juliet, ketika Allah berjanji, maka Dia pasti akan menepati janjiNya.

Kemarin malam, saya dijemput teman saya untuk bersama-sama pergi Ibadah. Dalam perjalanan menuju ibadah FA [Family Altar], saya melihat banyak motor, bus, truck yang lewat disamping kendaraan kami, saya sedikit ciut juga, karena teman saya ini, walau wanita tapi seperti pembalap.

Roh Kudus mengingatkan saya, "Sari, kebayang ngak kalau kendaraan itu menabrak kamu dan mengakibatkan kamu cacat seumur hidup, dan kamu tidak lagi leluasa pergi kesana-kemari sesuka hatimu". Teguran singkat ini membuat saya terdiam, selama ini saya terlalu sering kehilangan suka cita, hanya gara-gara satu masalah, dan MELUPAKAN "kasih karunia lainnya". Terlahir dengan sempurna, merupakan anugerah yang tak terhingga, saya bisa jalan kesana-kemari dengan bebas, saya dipilih dan diberi kesempatan untuk menyampaikan kabar baik kepada orang banyak, Dan ternyata saya masih merasa KURANG! Dan terlalu bodoh hanya karena satu "kerikil" saya lupakan berkat-berkat yang lainnya.

Kegelisahan, ketakutan dan kekuatiran membuat kita merasa dunia kita menjadi sempit. Kita kehilangan kekuatan. Kita kehilangan pegangan.

Mari kita pandang orang-orang disekitar kita, orang buta; lumpuh; kelaparan; kehilangan pekerjaan. . . . Tapi Tuhan tetap menjaga mereka, semiskin-miskinnya orang tidak pernah sampai menu makan malamnya "sepiring BATU"!

Nana berpikir, bahwa kematian adalah solusi yang paling baik untuk keluar dari masalah di dalam keluarganya. Kematian Nana, bukan akhir dari kemelut di dalam keluarga mereka, justru dibalik kematian Nana ada kejadian lain yang terjadi dan hal itu jauh lebih tragis! KEMATIAN NANA SIA-SIA.

Adiknya meninggal karena over dosis, stress karena kakaknya meninggal dengan cara seperti itu, stress melihat kondisi keluarga mereka. Ayah dan ibunya bercerai, saling menyalahkan sebagai penyebab kematian putrinya. Kekasihnya yang selingkuh, akhirnya menikah dan bukan dengan selingkuhannya tapi dengan 3 wanita setelah itu.

Kematian Nana sia-sia, padahal Kasih Yesus lebih dari cukup baginya, bahkan Yesus sudah mati baginya.

Dikirim oleh Sari Tarigan.

Jumat, 13 Juli 2007

KETIKA NAMAKU DISEBUT

Beberapa Hari yang lalu suamiku berjanji mengantarku ke arisan, tapi dia pulang kerumah setelah aku menunggu tiga jam, make up Ku sudah cemot sana-cemot sini, dia minta maaf karena mengantar salah seorang anak buahnya kerumah sakit karena tiba-tiba pingsan dikantor.

Dan Hari ini kejadian itu terulang lagi, padahal tadi pagi sebelum dia berangkat kerja, aku sudah mengingatkan bahwa nanti sore aku mau ke tempat Mama Dan dia menyanggupi Dan berjanji akan pulang lebih awal.

Aku sama sekali tidak menyangka, kalo sore ini dia kembali membatalkan janji mengantarku ke rumah Mama!! Karena pikirku, dia begitu menyayangi Dan menghargai orang tuaku jadi sudah pasti dia akan mengutamakan jadwal kami sore ini tapi ternyata aku salah, dia lebih memilih mengantar anak buahnya kerumah sakit.

Sambil menangis, aku menelphone mama dan minta maaf tidak bisa datang, karena Mas Beno baru pulang jam 8 malam. Aku sedikit lega karena nada suara mama tidak menunjukkan rasa kekecewaan tapi dia justru memuji Mas Beno yang begitu baik memperhatikan dan menolong anak buahnya. [sebel ngak sih .. . ..]

Aku berharap Mas Beno merayuku atau setidaknya menenangkanku dan meminta maaf kalau dia ingkar janji, tapi kupikir sia-sia aku berharap dia merayuku dan yang dia lakukan hanya diam, tapi sebelum saat teduh dia memegang tanganku dan minta maaf karena sudah mengecewakanku. [suamiku, selalu punya waktu untuk komunikasi dengan Tuhan, di awal pernikahan sesekali aku ikut itupun kalau aku lagi mood, dan kenyataannya aku lebih sering tidak mood. Tak pernah sekalipun aku mendengar dia mengomel dengan kemalasanku ini, dia paling hanya berkata padaku sambil tersenyum,"papa sabar menanti Tuhan mengetuk pintu hati mama", dan aku pura-pura tidak dengar apa yang dia katakan].

Benar apa kata mama, Seharusnya aku bangga memiliki suami yang baik dan perhatian seperti Mas Beno tapi sering kali aku jengkel karena dia tega mengorbankan rencanaku untuk membantu orang lain.

Rumah yang kami miliki cukup besar, dan kami punya kamar khusus untuk DOA, Mas Beno menyebutnya Mezbah Doa. Setiap Sabtu pagi, sekitar jam 4:00 subuh Mas Beno masuk ke Mezbah Doa dan baru keluar setelah jam 6:00 pagi, aku bingung selama DUA jam, kira-kira apa saja yang dia doakannya!! Buat aku pribadi, boro-boro dua jam, untuk DOA 10 menit saja aku sudah kehabisan kata-kata untuk berdoa.

Dan setelah DOA, dia selalu mengantarku ke pasar untuk membeli kebutuhan dapur selama satu minggu, tapi saat waktu sudah menunjukkan pukul 6:30 belum ada tanda-tanda bahwa ritual yang mas Beno lakukan selesai.

Aku belum mampu melupakan kejadian tadi malam, dengan sedikit menahan marah aku mendatanginya di kamar di mana mas Beno berdoa, saat tanganku siap-siap membuka pintu kamar, langkahku tertahan!! Aku mendengar mas Beno MENANGIS!! Sayup-sayup aku mendengar namaku disebut di doanya dan apa yang dia ucapkan dalam doanya membuat kakiku tak mampu menahan tubuhku untuk tetap berdiri aku terduduk lemas, air mataku mengalir dan tak mampu untuk berkata sepatah katapun.

Dalam doanya aku dengar dia berkata :
"Tuhan Yesus, terimakasih sudah mempertemukanku dan mengikatku dalam pernikahan kudus bersama Icha, dia adalah wanita terbaik yang Engkau ijinkan untuk mendampingiku untuk menopangku dalam suka dan duka, seorang wanita yang tidak hanya cantik secara phisik tapi juga memiliki hati yang luar biasa yang begitu mencintaiku dan mengasihiku" Ajar aku Yesus untuk menjadi suami yang baik bagi dia, bertanggung jawab ! Sesuai dengan janjiku dihadapan jemaat dan khususnya padaMu saat kami diberkati di Rumah Tuhan."

Dan setelah mengucapkan DOA itu, aku dengar dia menangis sepertinya mas Beno tak mampu lagi mengucapkan sepatah katapun juga.

Aku berlari kekamar Dan mengunci diri, oh .. . .Tuhan Yesus, istri macam apa aku ini, selama ini aku terlalu egois dan terlalu banyak menuntut.

Emang benar dia beberapa kali membatalkan janjinya untuk menemaniku arisan, shopping atau kerumah mama dan lebih memilih membantu orang-orang disekitarnya, tapi bukankah dia lebih dulu menelphoneku untuk menyampaikan bahwa dia tidak bisa mengantarku tapi dia akan usahakan untuk menjemputku.

Dan kenapa aku harus egois dengan berharap dia yang selalu memperhatikanku, bukankah aku bisa naik taxi ketempat mama atau ke arisan atau mengendari Mobil sendiri karena aku juga mempunyai Mobil dirumah.

Aku teringat banyak teman-temanku yang punya suami egois lebih memilih menghabiskan waktu di pub atau mancing bersama teman-temannya diakhir minggu dibanding dengan keluarga atau suami yang salah menyalurkan bakat tinjunya sedikit saja Ada kesalahan atau telat melayani suami maka kepalan tinju sudah mendarat di tubuh is istri.

Bukankah aku begitu beruntung mempunyai suami yang luar biasa mengasihi sesama dan punya kecintaan dan kesetiaan yang luar biasa pada Yesus ?.

Aku tidak mau kehilangan BELAHAN JIWA'ku yang telah Tuhan berikan, . . . Dengan langkah mantap aku melangkah ke garasi Mobil, dimana mas Beno sudah siap mengantarku ke pasar.
Setelah aku masuk Mobil sambil menjalan kan Mobil dengan suara lunak Mas Beno berkata, "Maaf 'ma, papa doanya lebih lama dari biasanya .. ".

Sambil tersenyum aku menjawab, "tidak apa-apa sayang kira-kira boleh ngak nanti malam, besok malam .. ..dan besoknya lagi mama ikutan saat teduh dengan papa?"


........................... Citttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttttt


[karena kaget, Mobil di REM dengan mendadak ], Dan aku lihat Ada air Mata menetes dipipi suamiku . . . .tapi aku tau bahwa pagi ini itu bukan air mata duka cita ......tapi SUKA CITA


Written by ; Sari Tarigan.

Minggu, 08 Juli 2007

KAMU BISA SEPERTI MALAIKAT

Singapore, 09 Oktober 2002.

Selamat pagi, satu hari baru lagi aku dapati dari Tuhanku. Berjalan santai aku menuju Ang Mo Kio MRT. Lalu lalang penumpang yang penuh sesak kembali menjadi teman perjalananku menuju Expo, MRT terdekat kantorku.

Kucari sosok seorang Ibu tua yang selalu menarik perhatianku. Ah, kembali kulihat sang ibu berjalan tertatih menghampiri kereta. Ya, si ibu yang berjalan sambil memegang tongkat. Si Ibu yang buta.

Hampir setiap pagi aku melihat ia berjalan tertatih untuk masuk ke dalam kereta yang penuh sesak tersebut. Sebelum akhirnya turun di Cityhall dan berganti kereta menuju PayaLebar dimana ia turun dan hilang dari pandanganku.

Kesal rasanya melihat kerumunan orang orang yang, yach kalau boleh dikatakan egois sekali rasanya. Setiap hari kuperhatikan, dari sekian banyak orang yang berjalan dengan santai atau tergesa-gesa, hanya segelintir tangan yang mau membantu si ibu untuk berjalan. Bisa dibayangkan sibuknya dan tegangnya si ibu di tengah keramaian orang-orang yang menunggu datangnya kereta.

Tertabrak kesana-kemari namun tetap berusaha melangkah sambil mengetukan tongkatnya ke depan.

Tuhan memang baik, tentu saja. Ia tak pernah meninggalkan ciptaanNya.

Selalu ada satu orang india yang sama, yang menemani sang ibu. Dalam keheningannya, lelaki itu berjalan dan menuntun si ibu. Seperti menuntun ibunya sendiri. Kuperhatikan apakah mereka saling mengenal, dan kusadari bahwa ternyata mereka asing satu sama lain.

Ya, seperti seorang malaikat pelindung saja lelaki itu. Dengan wajahnya yang tenang dia menemani si ibu. Walaupun saling diam, mungkin karena berbeda bahasa, si ibu rasanya tidak bisa berbahasa inggris.

Tapi tadi pagi tidak kulihat si malaikat itu. Namun seiring tanganku hendak menggapai si ibu, sebuah sosok tangan mendahuluiku. Ah seorang lelaki lain telah Tuhan lunakkan hatinya untuk membantu si ibu. Seorang india lain. Dengan tampang yang gagah, dia menuntun si ibu.

Tersenyum aku melihat semua itu, ah Tuhan memang baik.

Seiring kereta melaju, aku berpikir. Ya, akupun bisa menjadi malaikat malaikat kecil bagi si ibu. Tentu saja jika aku mau merendam semua keegoisanku, keegoisanku untuk lebih mementingkan diriku untuk mendapat tempat duduk di dalam kereta dan lebih memperhatikan orang yang membutuhkan disekitarku.

Ku raih buku tulisan Paus yang berjudul "Sahabat di tengah Sahabat", kubaca pesan beliau bagi kaum muda sedunia VII, Flourish whereever you'll be planted…Tersenyum aku membaca kalimat itu, ya seperti 2 orang India yang baru kusebut, aku juga bisa memuliakan Tuhan dengan orang disekelilingku.

You too can be an angel,” kukatakan itu dalam hatiku.

Bukan dengan hal hal yang besar, tetapi dalam hal hal yang kecil, dalam kesederhanaan Yesus yang telah di tunjukkan kedua `malaikat' tersebut.

PayaLebar, ah si ibu berdiri dari tempat duduknya dan berjalan keluar kereta. Bruk, tak sadar ia menabrak seorang wanita. Dan dengan senyum manisnya, wanita tersebut menuntun tangan si ibu menuju eskalator dan hilang dari pandanganku.

Ah, satu malaikat lagi yang Tuhan kirimkan bagi si ibu. Dan ya, “You too can be an angel.

In lumine tuo

Kamis, 05 Juli 2007

Uang

Deni sedang kesulitan keuangan, begitu kata teman-temannya. Kok tahu? Karena setiap kali kekurangan uang, Deni selalu sibuk meminjam uang sana sini. Beberapa temannya ada yang menolak karena setiap bulan dia meminjam uang.

Memang, setelah gajian pasti dibayar, tapi beberapa hari kemudian pinjam lagi. Lama-kelamaan teman-temannya merasa keberatan. Kalau sudah demikian, maka Deni sibuk mencari-cari siapa yang dapat meminjamkan uangnya.

Akhirnya Deni mendapatkan juga uang yang dibutuhkannya dari pinjaman seorang office boy. Sebenarnya Deni malu. Uangnya sudah habis padahal baru tanggal 16. Dia sudah tidak punya uang lagi untuk naik kereta ke kantor dan untuk biaya makan.

Ketika dia sedang berkeluh kesah dan bingung, tiba-tiba office boy menawarkan uangnya. Dia tidak sampai hati melihat Deni kesulitan. Deni tadinya menolak karena malu. Masak staf meminjam uang dari office boy? Tapi orang tersebut benar-benar rela ingin membantunya, sehingga akhirnya Deni menerima bantuannya.

Dalam hati kecilnya Deni merasa sangat malu. Malu sekali!. Tapi Deni terpaksa menerimanya, dia benar-benar tidak punya uang. Keesokan harinya dia ingin mencari office boy tersebut dan mengajaknya berbincang-bincang. Deni penasaran. Mengapa office boy tersebut bisa punya uang lebih dan bahkan bisa meminjamkan uangnya kepada Deni?

Bukankah gaji Deni lebih besar? Mereka sama-sama masih bujangan, belum menikah. Tapi, mengapa office boy tersebut bisa menyimpan uang sedangkan Deni selalu kehabisan uang? Kok bisa? Apa kuncinya?


Siangnya Deni baru mendapat kesempatan untuk berbincang-bincang dan bertukar pikiran. Office boy itu memang sangat istimewa. Dia paling rajin bekerja. Paling tuntas mengerjakan semua tugasnya. Tidak pernah terlambat masuk kerja. Padahal kalau dilihat penampilannya sepertinya biasa saja. Orangnya sederhana, agak kurus dan sopan, tapi tidak terkesan menjilat.

Sambil makan siang bersama di warung sebelah, Deni mulai menggali kunci sukses menyimpan uang yang dilakukan office boy tersebut. "Bagaimana caranya sih, kok bisa mempunyai uang lebih? Gaji saya selalu habis setelah tengah bulan." Deni membuka percakapan.

Office boy tersebut mulai bercerita. "Saya dulu juga begitu, mas. Gaji saya selalu habis sebelum akhir bulan. Akhirnya saya terpaksa meminjam dari teman. Tapi setelah meminjam, rasanya gaji saya semakin tidak cukup. Karena setiap kali gajian, saya harus mengembalikan uang yang saya pinjam di bulan sebelumnya. Jadi uang gaji saya berkurang. Akibatnya saya semakin kekurangan mas. Gaji utuh saja tidak cukup, apalagi setelah dipotong untuk membayar utang. Ya, semakin berkurang lah mas. Semakin lama, utang saya semakin banyak"

Benar juga, pikir Deni. Pikiran yang sederhana tapi mengandung kebenaran karena seperti itulah yang dialaminya. "Jadi bagaimana caranya melepaskan diri dari lilitan utang?" tanya Deni.

"Waktu itu saya diajari oleh nenek saya. Saya pernah pulang kampung tanpa membawa uang banyak. Waktu itu nenek saya bertanya kemana gaji saya. Saya bilang sudah habis. Langsung saya dipanggil dan diberi wejangan oleh beliau." katanya.

Nenek saya berkata: "Uang itu seperti air. Air selalu mengalir ke tempat yang lebih rendah. Kalau tidak dibendung, maka air akan mengalir terus. Seperti sungai. Harus dibendung. Setelah dibendung, maka uang akan berhenti mengalir dan akan mulai bertambah banyak."

Hidup prihatin


Waktu itu saya bertanya: "Bagaimana cara membendungnya? " Nenek saya menjawab tegas:"Prihatin. Bulan depan jangan utang lagi."

"Tapi nanti kurang nek."

"Tidak", kata nenek. "Begini caranya. Begitu terima gaji, segera lunasi utangmu. Sisanya harus dicukupkan untuk sebulan. Jangan utang. Kamu jangan makan di luar atau jajan. Kalau perlu makan nasi putih dan garam, kecap atau kerupuk saja. Pasti cukup." Lalu saya diajak menghitung berapa uang yang harus saya sisihkan untuk ongkos, berapa untuk beli beras, garam, kecap dan kerupuk, dan lain-lain.

Nenek benar-benar meminta saya hidup secara prihatin. Saya tidak boleh naik ojek lagi. Dari rumah saya harus berjalan kaki ke jalan raya tempat saya naik angkutan umum. Pulangnya juga tidak naik ojek karena ojek cukup mahal. Uang saya memang pas-pasan untuk hidup ngirit seperti itu. Tapi memang cukup sih."

"Bulan depannya, saya disarankan untuk melanjutkan hidup seperti itu. Bulan depannya, uang gaji saya sudah mulai ada yang bisa saya sisihkan untuk ditabung.

Bulan ketiga saya mulai makan lebih banyak demi menjaga kondisi tubuh saya, bukan lagi dengan garam dan kecap. Tapi dua bulan hidup sederhana telah membuat saya tidak ingin beli apa-apa lagi. Makanan saya cukup sederhana saja. Saya tidak lagi suka jajan. Saya tidak pernah naik ojek lagi. Dari situlah saya mulai bisa menabung mas. Sampai sekarang."

Deni bertanya:"Boleh tahu berapa tabungan kamu? Tapi kalau kamu keberatan menjawab, tidak apa-apa. Tak usah dijawab."

"Tidak apa-apa mas. Tabungan saya hampir enam juta rupiah. Saya ingin menabung untuk biaya pernikahan saya tahun depan Mas."


Deni hanya bisa terharu. Yang penting niat. Kalau mau ngirit, pasti bisa. Mengapa uangnya habis terus? Karena pengeluaran Deni cukup besar. Padahal sebenarnya bisa dikurangi. Tapi Deni cenderung memanjakan dirinya. Dia selalu memilih naik ojek. Makan siang selalu di luar, tidak pernah mau membawa nasi atau makanan dari rumah. Pengeluarannya jauh melebihi gaji yang diperolehnya.

Rasa haru campur malu membuat Deni bertekad mengubah cara hidupnya. Dia juga ingin membendung uang yang dimilikinya. Dia takkan membiarkan uangnya mengalir terus. Harus segera dibendung. Mulai kapan? Hari ini! Change! Start today! Start now!

"Janganlah kamu menjadi hamba uang dan cukupkanlah dirimu dengan apa yang ada padamu. Karena Allah telah berfirman: "Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau." (Ibrani 13:5)

Senin, 28 Mei 2007

BISKUIT YANG DITUKAR DENGAN BUNYI
(Kepulauan Vanuatu, 1848 - 1872)

"Darat!" seru seorang kelasi yang sedang bertengger di mercu yang tiang itu. " Ada darat di sana !" Suaranya mengalun dari atas ke bawah, ke geladak kapal layar yang sedang melintasi Lautan Pasifik itu.

Seluruh isi kapal itu segera naik dari bawah. Sudah lama mereka rindu menyaksikan daratan! Ada kelasi yang mulai naik ke tiang layar untuk dapat melihat lebih jauh ke arah haluan. Ada penumpang yang lari ke kayu rimbat di pinggir geladak.

Salah seorang penumpang itu adalah seorang pemuda bernama John Geddie.

Ia pun rindu sekali menyaksikan daratan yang sudah nampak di kejauhan itu.

Pasti daratan itu lain sekali daripada apa saja yang pernah dilihatnya sepanjang umur.

John Geddie berasal dari negara Kanada, propinsi Nova Skotia. Ia sudah mengenal lautan, tetapi lautan di sana ditumbuhi pohon cemara dan pines, dan sering tertutup salju.

Lain sekali dengan daratan yang sedang dituju oleh kapal layar itu! John Geddie telah datang ke daerah Pasifik Selatan yang panas lembab, agar ia dapat memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus kepada para penduduk Kepulauan Vanuatu . Atau lebih tepat, Ia berharap ada kesempatan memberitakan Kabar Baik kepada mereka, sebelum mereka sempat memakan dia, karena pada tahun 1848, masih ada di antara penduduk Vanuatu itu yang suka makan daging manusia.

Selama kapal berlayar mendekati pelabuhan, John Geddie menunggu dengan perasaan kurang sabar. Pulau itu nampaknya seperti zamrud hijau ditengah-tengah lauatan nan biru. Pohon-pohon palem menjulang tinggi di pantai pasir putih.

Ternyata pulau yang pertama-tama dilihat John Geddie itu bernama pulau Aneityum. Penduduk pulau itu sudah biasa didatangi orang asing. Mereka suka berdagang dengan para pendatang yang naik kapal dari jauh. Jadi, John tidak usah khawatir akan dibunuh dan dimakan selama ia menetap dipulau Anityum itu.

Dengan mudah John Geddie menyewa sebuah rumah. Para tetangganya yang baru itu rupanya cukup ramah. Namun mereka kurang berminat akan ajarannya tentang Tuhan Yang Maha Esa.

"Kami punya ilah-ilah sendiri," demikian kata orang-orang Vanuatu itu.

"Buat apa kamu mau mendengar tentang ilah lain yang diceritakan orang asing yang warna kulitnya sudah luntur itu?"

Tidak lama kemudian, kapal laut yang telah membawa John Geddie ke pulau Aneityum itu berangkat lagi. Ia berdiri di pantai sambil melambaikan tangannya selama layar itu kelihatan semakin kecil di kejauhan.

Di pantai itu, di kelilingnya berdiri bapak-bapak, ibu-ibu, dan anak-anak. Mereka semua asyik bercakap-cakap. Namun tidak ada satu kata pun yang dapat dipahami oleh John Geddie.

"Sudah jelas, aku harus belajar bahasa mereka," kata John dalam hatinya.

Maka pada saat kapal layar itu makin menghilang di lautan lepas, ia mulai mendengarkan baik-baik lagu kalimat yang sedang diucapkan disekitarnya.

Penduduk pulau Aneityum yang suka berdagang itu cukup pandai berbicara bahasa Inggris. Mereka biasa bisa menggali akar ararut (ubi garut), lalu menawarkannya kepada para pendatang. Biasanya daripada menerima uang, mereka lebih suka tukar-menukar saja, sehingga dengan demikian mereka mendapat barang-barang yang mereka inginkan.

Tetapi masalahnya, bahasa Inggris yang cocok untuk perdagangan tukar menukar itu, bukanlah bahasa Inggris yang cocok untuk memberitakan Kabar Baik tentang Tuhan Yesus. Apa lagi, John Geddie tidak berminat mengajarkan bahasa Inggris kepada penduduk pulau itu.

"Buat apa aku mengajar mereka membaca Alkitab dalam bahasa Inggris?"

tanya John pada dirinya sendiri. "Sebaiknya, aku mau belajar bahasa Aneityum, bahasa mereka. Bila aku menceritakan isi Alkitab, aku ingin supaya mereka semua dapat mengerti, dari nenek yang paling tua samapi anak yang paling kecil. Aku ingin menjadi begitu pandai berbicara dalam bahasa mereka, sampai-sampai mereka akan merasakan bahwa aku adalah salah seorang dari antara mereka."

Tidak lama kemudian, John Geddie memang dapat mengucapkan banyak kata dalam bahasa Aneityum. Namun ia belum puas. Ia sering meminta orang-orang Vanuatu mengulangi sampai berkali-kali satu kata yang sama.

Ia pun minta supaya satu kata itu mereka ucapkan dengan sangat pelan-pelan, agar ia dapat membeo bunyi yang sedang didengarnya itu.

Tetapi penduduk pulau itu kurang senang jika terus-menerus mengulangi kata-kata yang sama. Malu rasanya, jika harus bertalu-talu mengluarkan bunyi yang sama, hanya agar seorang asing dapat memperhatikan mulut mereka. Lambat laun mereka tidak segan-segan menyatakan rasa bosan atau rasa tersinggung mereka; satu persatu mereka meninggalkan di seorang diri.

"Wah, bagaimana aku dapat menguasai bunyi bahasa ini?" tanya John Geddie pada dirinya sendiri. "Apa lagi, jika aku tidak dapat menguasai bunyinya, bagaimana aku dapat menyusun tanda-tanda tulisan untuk bahasa ini yang belum pernah ditulis?"

Pada suatu hari John sedang mengunyah sepotong biskuit kapal. Biskuit kapal itu lain daripada biskuit kaleng--keras sekali, dan rasanya asin.

Justru karena kerasnya, biskuit semacam itu dapat bertahan lama. Pada masa lampau, selama pelayaran yang memakan waktu panjang, biskuit kapal biasa dibawa serta sebagai bekal.

Mula-mula John Geddie tidak suka memakan biskuit kapal. Tetapi lambat laun ia mulai menyukai rasanya, sehingga pada waktu kapal hendak melanjutkan perjalanannya, ia minta supaya ditinggalkan satu peti biskuit itu baginya.

Sewaktu-waktu ia mengunyah sepotong biskuit yang keras dan asin rasanya itu.

Pada waktu John sedang makan-makan, kebetulan lewatlah seorang Vanuatu .

Ia salah seorang penduduk setempat yang telah meninggalkan John tanpa pamit, karena ia bosan atau tersinggung jika diminta berulang-ulang mengucapkan kata yang sama. Namun John ingin tetap bersikap ramah terhadap tetangganya itu, maka ia menawarkan sepotong biskuit kapal kepadanya. "Silakan coba!"

katanya dalam bahasa Inggris.

Dengan agak was-was orang itu mulai mencicipi. Ia mengunyah biskuit yang keras itu. Ia menjilat dengan lidahnya. Lalu ia mengunyah lagi. Sudah jelas, ia menyukai biskuit yang asin rasanya itu.

Setelah selesai, ia mengulurkan tangannya. Tetapi John Geddie baru mendapat akal. Ia tidak segera memberikan lagi kepada tetangganya itu.

"Ayo, tukar!" kata John. Dan memang mereka mulai tukar-menukar. Yang diterima John sebagai pengganti biskuit itu, bukannya barang melainkan bunyi-bunyi yang diucapkan berulang-ulang.

Dengan cepat berita itu mulai tersiar, "Orang asing yang aneh itu rela memberikan makanan yang enak, asal saja ada penduduk yang rela membuang waktu dengan berkali-kali mengucapkan kata-kata dalam bahasanya sendiri!"

Maka selanjutnya John tidak pernah kekurangan penolong dalam usahanya belajar bahasa setempat.

Sepotong demi sepotong ia menawarkan biskuit kapal itu kepada penduduk setempat. Satu demi satu ia menguasai bunyi yang biasa dilafalkan dalam bahasa mereka, sampai dapat membeo setiap kata dengan tepat dan jelas.

Sementara itu, John Geddie juga sudah menyusun semacam abjad bahasa Aneityum. Ia mulai mencatat kata-kata dalam bentuk tulisan. Tidak lama kemudian, kepada para tetangganya ia dapat bercerita tentang Tuhan Yang Maha Esa. Ia juga dapat bercerita tentang Yesus Kristus, yang sangat mengasihi semua orang.

Cerita-cerita yang disampaikan John Geddie itu berasal dari Kitab Injil Markus. Setiap kali bercerita, ia pun mencatat kata-kata dari ceritanya itu. Lambat laun ia dapat menyusun seluruh Injil Markus dalam bahasa Aneityum.

Penduduk pulau itu sudah mulai mengenal John Geddie; ia pun sudah semakin mengenal mereka. Mereka mulai saling mempercayai dan saling mengasihi. Oleh para tetangganya John sering dibawa serta pada waktu mereka pergi menjala ikan atau memelihara tanaman ubi ararut. Mereka memperlihatkan kepadanya bagaimana mereka menggali akar ararut, serta menyiapkan hasil tumbuhan itu untuk dijual.

Mereka juga mengajar John tentang adat mereka, tentang dongeng mereka, tentang cara mereka beribadah. Dengan panjang sabar John pun mengajar mereka tentang Tuhan Yesus Kristus. Lambat laun ada banyak di antara mereka yang menjadi orang Kristen.

Di samping mengajar, John Geddie juga masih terus menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa setempat. Setelah Kitab Injil Markus selesai, naskahnya dikirim ke Australia untuk dicetak. Ketika buku-buku kecil yang berisi Injil Markus itu sudah kembali lagi, sebagian penduduk Vanuatu merasa sangat

senang: Mereka dapat membaca firman Allah dalam bahasa mereka sendiri!

Tetapi sebagian lagi merasa sangat sedih, karena mereka itu masih buta huruf.

Maka John Geddie mulai mengajar orang-orang yang buta huruf itu, agar mereka dapat membaca bahasa mereka sendiri. Sementara itu, ia pun terus mengalihkan Firman Allah ke dalam bahasa mereka. Ketika Kitab Injil Matius selesai, John berhasil membeli sebuah alat cetak kecil.

Selanjutnya hasil karyanya itu dapat langsung dicetak di Vanuatu .

Akhirnya seluruh Kitab Perjanjian Baru selesai diterjemahkan ke dalam bahasa Aneityum. Dengan gembira John Geddie berkata kepada kawan-kawannya, "Sekarang kita harus mencetaknya."

Tetapi Kitab Perjanjian Baru itu terlalu tebal; tak mungkin dikerjakan dengan alat cetak kecil yang sudah ada. Maka John Geddie mengumpulkan para pemimpin masyarakat setempat.

"Sekarang sudah ada Kitab Perjanjian Baru dalam bahasa kalian sendiri,"

ia mengumumkan.

"Benar!" jawab pemimpin mereka yang tertua.

"Sungguh bagus dan ajaib, bahwa hal itu sudah terwujud."

"Selanjutnya," kata John, "banyak salinan yang harus dibuat oleh mesin."

Para pemimpin masyarakat akan menunggu perkataannya lebih lanjut.

"Hal itu menuntut uang."

Tidak ada seorang pun yang berbicara.

"Aku tidak punya uang," kata John dengan sedih.

"Kami juga tidak punya uang," kata para pemimpin.

Hening sejenak. Lalu John Geddie berbicara lagi: "Namun kalian sudah biasa menawarkan akar arurat kepada para pedagang kapal. Apakah kalian rela menyisihkan sepersepuluh dari hasil tukar-menukar itu? Apakah kalian rela menguangkan yang sepersepuluh itu, agar dapat dipakai untuk mengongkosi pencetakan Alkitab?"

Para pemimpin itu pulang dan berunding dengan rakyat. Lalu mereka melaporkan bahwa rakyat Vanuatu memang rela menyisihkan sepersepuluh dari hasil perdagangan mereka.

Setelah sepersepuluh itu diuangkan, hasilnya dua ribu dolar. John Geddie mengirimkan uang itu beserta naskah Kitab Perjanjian Baru berbahasa Aneityum, agar dapat dicetak ditempat yang jauh.

Berbulan-bulan lamanya John dan kawan-kawannya menunggu. Lalu pada suatu hari, ada sebuah kapal yang sedang membongkar muatannya di pulau Aneityum. Di antara muatannya itu ada beberapa bungkusan besar yang dialamatkan kepada John Geddie.

Setiap keluarga di pulau itu menerima sebuah Kitab Perjanjian Baru.

Namun di antara mereka masih ada yang belum pandai membaca.

"Mari kita mengadakan sayembara!" usul John. Beberapa hadiah di tawarkan kepada orang-orang yang berhasil membacakan Perjanjian Baru secara tepat dan jelas. Dengan rajin mereka bersaing untuk menjadi pandai membaca Firman Allah. Ternyata setiap hari ada sebanyak dua ribu orang Vanuatu asyik membacakan Alkitab. Dan sisa penduduk pulau itu asyik mendengarkan pembacaan mereka.

Sementara itu, John Geddie masih tetap meneruskan tugasnya sebagai guru dan penerjemah. Menjelang tahun 1872, hampir seluruh Kitab Perjanjian Lama sudah dialihkan ke dalam bahasa Aneityum.

Dua puluh empat tahun sudah lewat sejak kelasi itu menyerukan "Darat!"

dari mercu tiang layar yang sedang membawa John Geddie dari jauh. Dan pada tahun yang kedua puluh empat itu juga, John Geddie pun tutup usia.

Para penduduk Vanuatu berkabung. "Ia telah meninggalkan kita," kata mereka. "Ia telah berpulang ke surga." Lalu mereka memasang sebuah plaket pada dinding gedung gereja terbesar di pulau Aneityem. Di atas plaket itu terukir kata-kata ini:

"Ketika ia mendarat pada tahun 1848, Di sini tidak ada orang Kristen. Ketika ia berpulang pada tahun 1872, Di sini tidak ada orang kafir."

Minggu, 27 Mei 2007

SEBUAH NOSTALGIA SEORANG IBU DI TAHUN 1958

Written by Jack
Wednesday, 29 November 2006

Aku memang bukan penganut Nasrani, tapi anak laki-laki bawaan suamiku dia penganut agama Kristen. Karto sekalipun masih kecil tapi kata-katanya sering membuatku terheran-heran.

Aku memang gadis desa yang menikah dengan suamiku dengan komitmen aku harus menerima Karto sebagai anakku. Karto adalah anak suamiku dengan istri pertamanya Rebeca, yang meninggal sudah meninggal tiga bulan setelah melahirkan Karto. Setelah enam tahun Karto tinggal bersamaku, adik almarhum Rebeca dari surabaya datang dan mengambil dengan alasan aku sendiri punya anak kecil dan karto sudah bisa masuk kelas 1 SD. Aku tidak kuasa menahannya karena kenyataan aku sudah punya anak dua dan saat itu sedang hamil tua. Padahal selama enam tahun Karto pun silih berganti dijemput saudara kandung Rebeca ke bandung dan surabaya .

Setiap menjelang akhir tahun suamiku selalu menjemput Karto untuk dibawa ke yogyakarta untuk liburan sekaligus menengok adik- adiknya. Sejak kecil Karto selalu bercerita tentang Tuhan Yesus, maklum memang keluarga besar almarhum Rebeca ibunya Karto memang beragama kristen, mereka berasal dari Manado .

Sampai saat karto berumur tiga belas tahun, waktu itu dia duduk dikelas 1 SMP Surabaya . Karto datang di bulan Desember seijin suamiku dia mau mencari pohon cemara untuk membuat pohon terang Ningsih, Kartini, Santosa Nunung dan Nungrum anakku, seolah sangat gembira mendengar karto mau membuat perayaan Natal, merekapun diajak untuk membantu.

Sungguh heran bahwa anaku menyambut rencana itu dengan semangat. Karto sendiri datang kepadaku sambil bilang : "Bu kalu punya uang bikin kacang bawang dan kue ya, kita rayakan natalan bersama tanggal 25 desember malam. Nanti aku yang akan cerita dari buku Alkitab ini, ya bu ya." Karto bercerita sambil menunjukkan Alkitab bergambar versi anak-anak yang dibawa dari surabaya .

Sekalipun bukan anak kandungku tapi karto memang sudah saya rasakan seperti anak kandung. Begitu juga adik- adiknya. Tak ada yang tahu kalau karti bukanlah anak sekandung. Mereka sangat bangga kalau karto kakaknya datang liburan dari surabaya .

Seolah magnit yang begitu besar, kata-kata Kartopun aku sambut dengan gembira. Dua ayam pelugaraan aku potong, aku masak ayam goreng, sup, sambal goreng, kacang bawang dan beberapa makanan aku siapkan persis saudara-saudara umat muslim merayakan lebaran.

Sebelum hari H Karto mengajari adi knya lagu-lagu rohani, aku mendengarnya dari dapur. Jujur saja aku merasakan kebahagiaan yang begitu dalam, walaupun aku tidak rahi kebahagiaan apakah ini yang aku rasakan. Memang makin besar Karto seperti penerang didalam keluarga, kata-katanya sering membuat aku terperangah dan heran seperti suatu hari Karto bercerita : Di Surabaya di usia 9 tahun Karto di baptis dia bertanya kapan adi k- adi knya dibaptis? "Baptiskan tanda dosa kita sudah ditebus bu."

Aku peluk karto erat-erat dalam hati aku berkata, Tuhan aku tidak tahu banyak soal agama kristen tapi Karto, kau kirim agar aku dan seisi rumahku mengenalnya.

Tanggal 25 Desember sejak siang hari Karto sebuk menyambung cabang-cabang pohon daun cemara, bagian pangkalnya ditancapkan di pot bunga yang kosong, di ganjal dengan batu. Ningsih dan kartini menggunting karton-karton bekas diberi kertas emas dibuat bentuk bermacam-macam model bintang. Ada yang besar ada yang kecil, lilin yang panjang dipotong pendek-pendek diikatkan pada pohon cemara sebagai pengganti lampu.

Ketika aku ke ruang tengah kulihat Santoso sedang mengatur kursi berbentung melingkar. Santoso menengok kearahku sambil bilang disuruh mas Karto buat natalan nanti malam. Kulihat bangga sekali dia mendapat tugas itu.

Suamiku pulang dari kantor jam dua siang, melihat kegiatan diruma dia cuma senyum-senyum. Mungkin dia ingin membahagiakan Karto itu yang aku tangkap dalam benakku. Sore harinya Karti menyuruh adi k-diknya mandi dan berganti baju yang bagus. Karto sendiri kulihat memakai celana panjang dan hem putih lengan panjang, sambil bersiul-siul dia masuk ke kamarku bilang "bu aku pinjam dasi bapak ya". Aku mengambilnya dan memasangkan sebisanya "sini biar aku yang memasang" tiba-tiba suamiku muncul di balik pintu. Tangan suamiku terampil sekali menyilangkan dan menalikan dasi.

Jam tujuh malam Karto mengajak adik-adiknya duduk melingkar, lilin lilin kecil diatas pohon cemara didepan sebelah kiri dihidupkan, suasana semarak tiba-tiba muncul. Aku merasakan suasana yang sangat berbeda. Nunung yang masih tiga tahun pun diangkat dan disuruh duduk sendiri, Cuma Ningrum yang dipangku. Aku dan suamiku duduk disudut ruang. Seperti seorang pendeta Karto yang masih berusia 13 tahun berdiri dibelakang sebuah meja kecil menghadap kearahku. Sebuah Alkitab dan lilin besar ditaruh diatas meja. Kebaktianpun dimulai dengan berdoa dan bernyanyi "Slamat-slamat datang Yesus Tuhanku, yang turun dari surga yang rumahmu...."

Karto memimpin kebaktian malam itu benar-benar ia seperti malaikat kecil, sebentar-sebentar dia memperhatikan adiknya.. bahkan ketika Nunung menangis, dengan tenang Karto mengambil dot susunya, "nah boleh kok sambil ngedot, tapi jangan nakal ya"

Ditengah kebaktian Karto memimpin lagu natal "Malam Kudus" saat itu Karto menghampiriku sambul berbisik "Ibu yang menyalakan lilin untuk anak-anak dan bapak yang menyalakan lilin besar ditengah meja." Aku dan suamiku melakukan dengan sukacita.

Setelah acara kebaktian selesai, dan doa makan telah dilakukan Karto berdiri di tengah tengah ruangan mengambil Alkitab sambil berkata bapak, ibu, adik- adik, Setiap tahun dibulan Desember kita akan merayakan natal seperti ini. "Hore,hore", anak-anakku yang lain menyambut dengan kegirangan.

Inilah pengalaman pertamaku merayakan natal. Saat itulah aku menyadari , karto memang bukan anak kandungku, tapi harus kuakui aku, suamiku, dan anak-anakku , sangat bahagia ketika firman Tuhan dibawakan Karto.

Tak pernah kurencanakan aku dan keluargaku menj adi orang kristen tapi sekarang aku makin yakin bukan aku yang memilih Tuhan Yesus tapi Tuhan Yesuslah yang memilih aku dan keluargaku untuk diselamatkan.

Sebuah nostalgia seorang ibu di tahun 1958
Oktober 2005 - Sahaneosa

Rabu, 21 Februari 2007

TIDAK LAGI SENDIRI

Sebenarnya saya adalah orang yang penyendiri-sebagian karena saya tidak tahu bagaimana cara menjalin hubungan dengan orang lain dan sebagian lagi karena citra diri saya yang sangat buruk. Saya tidak hanya tinggi kurus-saya kurus kerempeng. Gigi saya menonjol keluar, rahang saya tampak cacat, dan celana saya selalu berlubang.

Hampir setiap saat saya selalu menyendiri-namun pada hari rabu malam di perkemahan itu, saya mendengar sesuatu yang benar-benar mengubah hidup saya. Untuk pertama kalinya saya mendengar kisah sederhana tentang bagaimana Yesus mati diatas kayu salib bagi Saya dan bahwa Ia bangkit kembali sehingga saya dapat memiliki hidup kekal bersama-Nya.

Saya tidak ingat siapa yang berkhotbah maupun judul khotbahnya saat itu, namun malam itu saya berjalan ke bagian depan aula dan berlutut di sebelah kiri mimbar. Saya berkata,"Yesus, aku ingin Engkau mengampuni dosaku. Aku ingin menyerahkan hidupku pada-Mu" Entah bagaimana saya tahu bahwa masa depan saya tidak akan pernah sama lagi sejak malam itu. Ketika saya kembali ke St.Petersburg, Dave sedang menunggu saya. Ia sudah mendengar bahwa saya telah berjumpa dengan Tuhan di Camp Alafia itu.

Nak", katanya, "Aku ingin kamu tahu betapa kami menyayangimu. Jangan khawatir.Segala sesuatu akan baik-baik saja. Kami akan merawatmu."

Belum pernah saya mendengar ucapan seperti itu. Akhir pekan berikutnya, untuk pertama kalinya dalam hidup saya, saya menghadiri kebaktian Minggu. Saya duduk sendirian karena merasa jengah bila bersama anak-anak muda lainnya. Saya bisa menebak betapa jeleknya penampilan saya dengan celana yang banyak lubang dan raut wajah yang tampak lucu.

Pemimpin pujian berkata,"Mari kita buka halaman 269 dan menyanyikan ‘Mata Air Hidup’"

Saya belum pernah menyanyi dari buku. saya kira membaca nyanyian itu sama dengan membaca buku-selesai membaca satu baris kemudian disusul dengan baris berikutnya. Tetapi bukan demikian caranya!

Saya menyanyi begitu saja tanpa menyadari bahwa saya tidak menyanyi seperti yang lainnya. Seorang wanita tua berbadan mungil dan baik hati duduk di belakang saya. Ia mencondongkan badannya ke depan, merangkul bahu saya dan berkata,"Biar saya mengajarimu bagaimana caranya."

Orang-orang di gereja itu sangat sabar terhadap saya.

Beberapa hari kemudian Ayah saya, yang telah keluar dari rumah sakit TBC, meninggal dunia karena serangan jantung.

Sejak saat itulah dua orang yang paling baik di dunia ini mengundang saya ke rumah mereka dan kemudian menampung saya di gereja. Mereka adalah Wayne Pitss dan Isterinya Evelyn. Beliau adalah gembala di First Assembly of God.

Karena penampilan fisik saya-saya sangat tertutup. Susunan gigi dan cacat pada rahang saya perlu diberi kawat gigi dan kemudian dioperasi agar bisa menjadi baik. Pendeta Pitts dan isterinyalah yang menolong saya mendapatkan kawat gigi saya yang pertama.

Orang-orang di gereja itu luar biasa baik. Mereka benar-benar memperdulikan saya. Bahkan saya diundang untuk bergabung dengan Royal Rangers sebuah program pemuda bagi anak laki-laki. Pemimpinnya menyadari betapa pekanya perasaan saya terhadap penampilan saya dan ia membuat saya merasa menjadi bagian dari kelompok itu, bukan sebagai bagian orang yang terkucil.

By:Bill Wilson
Metro Ministries New Yorkwww.metroministries.com

Pengalaman itu bukanlah sesuatu harus diceritakan, tetapi adalah sesuatu yang harus diberi kesempatan untuk terjadi.